Searching...
Sabtu, 06 Desember 2014
10.15 0

PEDOMAN PRAKTEK BERKEBUN KARET

Artikel Ini dikirim oleh Bapak Hariz sanjaya Dari tanjung morawa
I. SUMBER BENIH
A. SUMBER BENIH
Biji karet tersedia pada waktu tertentu saja antara bulan Pebruari sampai dengan April sehingga yntuk menyediakan benih perlu disesesuaikan dengan waktu yang begitu singkat, biji yang diambil benih sebaiknya berasal dari kebun produksi yang memenuhi syarat sebagai berikut :
  1. Kebun harus cukup luas (kira –kira 10 ha) hal ini agar memperoleh benih murni.
  2. Minimal lahan berumur 10 tahun.
  3. Pertanaman klonal sudah dari perbanyakan vegetatif.
B. PENGUMPULAN BENIH
Untuk melaksanakan pengumpulan dan pemungutan biji perlu langkah-langkah sebagai beikut :
  1. Satu bulan sebelum berjatuhan di lakukan penyiangan
  2. Dua hari sebelum pemungutan biji untuk keperluan benih, perlu dilakukan pemungutan pendahuluan dan tidak di gunakan untuk benih.
  3. Gambar 1. Contoh biji karet
    Pemungutan dan pengumpulan benih di lakukan dengan interval dua hari sekali.
C. SELEKSI BENIIH
Tujuan memperoleh hasil yang baik dengan daya kecambah yang tinggi tindakan yang perlu di lakukan pada tahapan ini adalah:
  1. Memeriksa daya lenting.
  2. Pemeriksaan kesegaran yakni: warna lembaga putih atau sedikit kuning.
3.Pemeiksaan warna kulit yaitu warna kulit mengkilat.

D. PENYIMPANAN BENIH

Penyimpanan benih bertujuan untuk mempertahankan daya kecambah tetap tinggi ,jika biji tidak segera di semai yang sangat penting di perhatikan dalam penyimpanan benih adalah menjaga kelembaban benih /kadar air biji supaya tidak turun dengan cara sebagai berikut.
  1. Benih direndam dalam air selama 12 jam.
    1. Benih di keringkan dengan tidak terkena sinar matahari langsung.
    2. Mengemas dalam kantong plastik degan campuran lumut sebanyak 2 kg per 2.500 biji diisi 10.000 di campur dengan serbu gergaji secukupnya yang sebelumnya dicampur dengan dithane M 45 dengan dosis 1-2 cc/liter air dengan cara ini benih dapat disimpan selama 10-14 hari dengan daya kecambah yang cukup baik.

E. BEDENG PERKECAMBAHAN

Syarat untuk membuat bedeng perckecambahan adalah tanah harus datar dan dekat dengan sumber air, cara perlakuan membut bedengan adalah :
  1. Tanah di cangkul agar gembur aerasenya lancar.
  2. Meratakan tanah.
  3. Membuat petak bedengan yang sekaligus membuat bangunan dan atap bedengan :
Ukuran bedengan
Lebar : 100-120 cm
Panjang : 5 meter
Tinggi : 10 cm tanpa parit
Jarak antar bedengan : 0,5 m
Arah bedengan : Utara Selatan
Tinggi pasir diatas bedengan : 7-10 cm
F. CARA MENYUSUN BENIH
Apabila benih berasal dari benih simpanan perlu dilakukan cara sebagai berikut :
  1. Segera benih di keluarkan dari kemasan dan dibersihkan dari kotoran termasuk bahan pelembab yang di gunakan
  2. Setelah itu segera di kecambahkan dengan cara :
1.Perut biji menghadap kebawah dengan posisi horizontal
2.Posisi benih ditekan dengan bagian yang direndam didalam pasir.
3.Mikrofil (pintu lembaga) harus ada dalam pasir
4.Jarak antar benih kira-kira 2 cm, untuk menjaga kelembaban tidak larut dalam penyiraman maka di atas benih di berikan lapisan daun alang – alang yang tipis.
  1. G. PEMELIHARAAN BEDENGAN PERKECAMBAHAN.
  1. 1. Penyiraman rutin 1-2 kali setiap hari
  2. Pengendalian / pemberantas hama penyakit
  3. Kurun waktu pemeliharaan bedengan perkecambahan secara intentif dari hari 0-30 yaitu pada waktu kecambah di pindahkan di pembibitan
Gambar 2 : Cara menyusun benih
Pestisida
Sasaran
Perlakuan
Furadan 3G
Semut
Disebar
Curater 3G
Semut
Disebar
Dafmatur 3G
Semut
Disebar
Agrolera 26 kp
Semut
Disemprot 2 cc/l
Dithane M45
Semut
Disemprot 2 cc/l

H. PEMERIKSAAN HASIL BENIH & PEMINDAHAN BIBIT

Benih karet berkecambah 5-30 hari setelah di kecambahkan, tetapi apabila benih karet tidak berkecambah dalam waktu 21 hari sejak dikecambahkan maka benih tersebut di buang.
Hal – hal yangperlu di lakukan dalam kurun waktu 0 – 21 hari sejak di kecambahkan adalah: disamping perawatan rutin juga perlu dilakukan seleksi terhadap benih yang kurang sehat
Apabila benih tersebut sudah berkecambah maka perlu dilakukan pemindahan ke pembibitan dengan stadia- stadia tertentu yaitu :
  1. Stadium Bintang
  2. Stadium Jarum
  3. Stadium Pancing
  4. Stadium Payung
Gambar 3 : Stadia Bintang
Gambar 4 : Stadia Jarum
Pemindahan bibit sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pagi hari namun selalu diikuti dengan penyiraman air.

II. P E M B I B I T A N
  1. A. PEMILIHAN LAHAN PEMBIBITAN
Untuk menentukan lahan pembibitan yang baik, perlu memperhaatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Toprografi rata dengan kemiringanyang tidak terlalu tajam.
  2. Tanah subur dan gembur.
  3. Areal diusahakan dekat dengan sumber air.
  4. Areal yang bebas dengan serangan penyakit akar.
  1. B. PERSIAPAN LAHAN PEMBIBITAN
Lahan pembibitan harus dari semua lahan yang mengganggu pertumbuhan tanaman maupun sumber penyakit karet, langkah-langkahnya sebagai berikut :
  1. Menumbang pohon/ sisa pohon sampai ke akar
  2. Membongkar semak belukar
  3. Setelah di bongkar bahan-bahan tersebut di kumpulkan pada suatu tempat
  4. Batu –batu yang berserakan di buang

C. PENGOLAHAN LAHAN PEMBIBITAN

Tujuan pengolahan lahan pada lahan pembibitan adalah menyuburkan tanaman dan menumpas populasi gulma atas dasar tujuan tersebut, maka langkah –langkah yang di lakukan adalah :sebagai berikut :
  1. Lahan di cangkul di gemburkan lalu di ratakan
  2. Buatlah bedengan selebar 1 m dan panjang menurut kebutuhan
  3. Jarak antar bedengan 40 – 50 cm jarak ini berfungsi sebagai parit sekaligus jalan untuk mengokulasi
  4. Lingkungan pembibitan tidak terlindung oleh pepohonan yang rindang

D. PENANAMAN KECAMBAH

  • Jarak tanam 40 x 50 cm
  • Sebelum kecambah di tanam maka perlu di buat lobang di sisi ajir 3 – 5cm sesuai dengan panjang akar kecambah.
  • Kecambah dimasukkan kedalam lobang dengan hati-hati sedalam kurang lebih 1 cm dari permukaan tanah, dijaga supaya akar dan calon/bakal batang tidak rusak, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur, sampai kulit biji tidak nampak.
  • Setelah itu dilakukan penyiraman.
  1. E. PEMELIHARAAN
Pemeliharaan pembibitan meliputi :
  1. Penyiraman
  • Penyiraman dilakukan jika 3 hari setelah penanaman tidak ada hujan
    • Penyiraman hanya dilakukan pada permulaan tanam sampai bibit berumur 15 hari. Setelah itu tidak perlu penyiraman lagi karena sudah cukup kuat.
  1. Penyulaman
Setelah bibit tumbuh dan membentuk daun yang pertama maka ajir segera dicabut, kecuali pada tanaman yang mati / rusak untuk memberi tanda penyulaman.
Bibit yang mati maupun rusak karena hama atau penyakit segera disulam. Penyulaman dilaksanakan pada permulaan tanam sampai bibit berumur satu bulan. Lebih dari umur tersebut tidak dibenarkan untuk menyulam, karena bibit akan heterogen ( tidak seragam).
  1. Penyiangan
Supaya bibit tumbuh dengan baik, maka pembibitan harus selalu bersih yakni bebas dari segala macam gulma. Penyiangan dilakukan sebelum diadakan pemupukan.
  1. Pemupukan
Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditabur atau dibenamkan diantara barisan tanaman. Waktu pemupkan diusahakan agar pembibitan dalam keadaan bersih dan tanah cukup lembab ( 1 hari sesuadah hujan )
Dosis pemupukan dipembibitan adalah sebagai berikut :
Umur
Urea
TSP
KCL
kieserit
Jumlah
1 bulan
1,37
2,34
0,82
0,55
5,08
2 bulan
2,75
4,70
1,60
1,08
10,16
3 bulan
2,75
4,70
1,60
1,08
10,16
4 bulan
4,30
7,30
2,63
1,70
15,90
5 bulan
4,30
7,30
2,63
1,70
15,90
6 bulan
4,30
7,30
2,63
1,70
15,90
Dosis perpohon (dalam Gram)
5.Mulching
Mulching dilakukan bila keadaan pebibitan kering terutama pada musim kemarau. Hal ini dilakukan pada permulaan pembibitan sampai umur kurang lebih 3 bulan, sehingga pupuk mudah diserap oleh tanaman dan kelembaban tetap tinggi. Pemberian mulching jangan sampai mengenai pangkal batang agar bibit tidak mudah busuk. Mulsa yang dipakai hendaknya dari jerami yang kering dan bebas dari biji-bijian serta penyakit.
  1. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang sering terdapat pada pembibitan karet yaitu :
  1. Belalang dan jangkrit yang menyerang pada awal pembibitan
  2. Bekicot
  3. Kutu-kutu dan tungau
  4. Meeldow (oidium)
  5. Gloesporium dan helminthosporium (bercak-bercak di daun sehingga terjadi keguguran terutama pada musim kemarau)
Hama yang ditimbulkan oleh jangkrit, belalang dan serangga lainnya dapat diberantas dengan azodrin atau intektisida yang lain. Kutu dan tungau dapat diberantas dengan keltehane 1 cc/1 liter air. Bekicot dapat diperantas dengan metadex yang dicampurkan dengan dedak kemudian dihamparkan disekeliling pembibitan. Meeldow, gloesporium dan helminthosporium dapat diberantas dengan dithane M 45.

  1. F. OKULASI
Okulasi adalah perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan penempelan mata tunas dari tanaman batang atas ketanaman batang bawah keduanya bersifat unggul. Dengan demikian terjadi pegabungan sifat-sifat yang baikdari kedua tanaman dan dalam waktu yang relatif pendek memperlihatkan pertumbuhan yang seragam.
Tujuan membat bibit okulasi agar prokduksi bisa lebih tinggi, karena mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
  1. Pertumbuhan tanaman seragam
  2. Umur berproduksi sangat cepat (4-5 tahun)
  3. Jumlah lateks (getah) yang di hasilkan banyak ,( Produksi tahun 1 1200-1700 kg /ha/tahun) atau 100-200 gr per pohon.
Beberapa klon yang di anjurkan untuk karet rakyat di sumatra utara adalah : GT 1, AVROS 2037, PR-300, PR-261, RRIM 712, BPM-24.
TEKNIK OKULASI
  • Waktu Okulasi
  1. Awal musim hujan
  2. Bila musim kemarau, pembibitan harus di siram
  3. Waktu okulasi yang baik jam 7.00 – 11.00 dan jam 14.00 – 17.00
  • Alat dan bahan persiapan okulasi
  1. Pisau okulasi yang baik dan tajam
  2. Gambar 5 : Tahapan okulasi
    Plstik pembalut okulasi selebar 2 cm dan panjangnya 40 cm
  1. Kain lap yang bersih
  2. Kayu entres
  • Tahapan Okulasi
  1. 1. Membuat Jendele Okulasi
  • Bersihkan batang bawah dengan kain lap
  • Buat jendela okulasi dengan menorehkan pisau okulasi setinggi 4-5cm dari pangkal bata batang
  • Ukuran jendela 2×4 cm atau 1/3lilit batang
  • Untuk okulasi bertangkai, jendela dibuat 2 buah, 3 torehan
  • Sebelum bibir jendela dibuka, latek yang keluar dilap dengan kain yang bersih
  • Agar okulasi berjalan cepat, torehan dibuat sebanyak mungkin sebelum jendela okulasi dibuka
  1. 2. Mengambil Mata Okulasi/ Mengiris Perisai
  • Mata okulasi di ambil dari kayu yang sehat, segar dan kulitnya mudah terkulupas, berupa mata sisik dan mata daun
  • Mata di ambil bersama dengan kulit batang, lapisan kayu dibawah mat diikutkan sedikit.
  • Ukuran sayatan sedikit lebih kecil dari ukuran jendela
  • Cara melepaskan perisai, kayu di tarik pelan – pelan hingga mata tetap menempel pada kulit.
  • Perisai okulasi harus bersih
  • Lapisan kambium tidak boleh kena tangan atau kotoran
  • Harus cepat di tempelkan pada jendela
  • Tanda mata daun dan mata sisik terletak jauh dari bekas kaki daun yang telah gugur
  1. 3. Menempel Mata Okulasi (Perisai) Dan Membalut
  • Buka jendela dengan pisau okulasi dari atas ke bawah
  • Tempelkan perisai di belakang jendela, jepit dengan ujung ibu jari agar tidak bergesergeser
  • Bila perisai terlau kecil, usahakan agar tepi perisai bagian atas dan dalam satu sisinya berhimpit dengan tepi jendela
  • Balut dengan tali plastik selebar 1,5-2 cm, tebal 0,05-0,06 cm dan panjangnya tergantung besar batang bibit / batang bawah.
  • Penbalutan dimulai dari atas kebawah.
  1. 4. Pemeriksaan Hasil Okulasi
  • dilakukan setelah 2-3 minggu setelah okulasi dilaksanakan.
  • pembalut dibuka, gores sedikit tempelan okulasi
  • bila masih hijau berarti okulasi masih hidup, tetapi bila warna coklat maka okulasi gagal.
  • bila okulasi gagal maka tali plastik pembalut diikt pada batang sebagai tanda.
  1. 5. Memotong / Menyerong
  • tujuan agar mata okulasi tumbuh
  • penyerongan dilakukan 15 hari sebelum pendongkelan dan penanaman ke polibag atau lapangan.
  • pennyerongan pada bibit umur 6-8 bulan dilakukan 10-15 cm diatas jendela okulasi sedangkan pada bibit 1-2 tahun.
  1. 6. Pembongkaran (Dengan 3 Cara)
a. Penggalian Lobang
  • 10 cm pada sisi pohon digali lobang sedalam 50-60 cm.
  • Untuk stum pendek aka tunggang di potong dengan sabit yang tajam pada kedalaman 60-70 cm,untuk stum tinggi pada kedalaman 80 cm.
  • kemudian bibit ditarik pelan-pelan kearah lobang dan dicabut, akar literal yang masih terikat tanah dipotong
b. Pembuatan parit
  • Sepanjang barisan dibuat parit
  • akar tunggal dipotong dan ditarik pelan-pelan ke arah lobang dan t erus dicabut.
c. Untuk stum tinggi
  • Disamping pohon (20 cm) lobang digali.
  • akar tunggal dipotong dengan pahat yang tajam pada kedalaman 80 cm, luka diolesi dengan rootone-F, lobang ditutup kembali.
  • satu minggu setelah pemotongan akar tunggal batang bagian atas setinggi 2,75-3 meter di potong , di usahakan 5 cm diatas karangan mata
  • Setelah karangan mata teratas bengkak, bibit di bongkar untuk si tanam
7. Seleksi Bibit
Bibit yang jelek harus dibuang, ciri-ciri bibit yang jelek adalah :
  • Akar telah di hinggapi penyakit jamur akar putih
  • Akar tunggal be cabang berbentuk garpu berbongol dan kecil
  • Bibit terluka
  • Bibit yang mata okulasinya tidak sempurna

G. Pemindahan Ke Polibag

Bibit polibag adalah bibit yang berasal dari stum OMT (okulasi mata tidur) yang di tanam di polibag sebelum ditanam di lapangan. Umumnya bibit polibag di tanam dilapangan setelah mempunyai satu atau dua payng. Keadaan ini dicapai kurang lebih 4 bulan setelah bibit di tanam dipolibag.
Melewati dari umur tersebut biasanya akar sudah banyak yang melilit dalam polibag. Tujuan pembibitan polibag adalah memperoleh pertumbuhan yang seragam dan mengurangi tingkat kematian bibit.
Gambar 6 : Bibit di dalam polibag
  1. 1. Teknik pembuatan bibit polibag
    1. Lokasi harus di pilih di tempat yang rata, dekat dengan sumber air, dekat dengan jalan, dekat dengan lokasi penanaman serta mempunyai topsoil yang baik dan cukup untuk mengisi polibag.
    2. Polibag yang di pergunakan berukuran 45x30cm, tebal 0,2cm dan sebaiknya berwarna hitam
    3. Tanah untuk mengisi polibag, di pergunakan tanah topsoil, yang halus dan tidak mengandung sisa-sisa akar.
    4. Setelah diisi 2/3 bagian,polibag disusun rapi dengan dua baris dalam parit sedalam 0,5cm tinggi polibag. Kemudian polibag ditimbun tanah supaya polibag tidak mudah roboh
    5. Kemudian bibit di tanam dengan cara menugal tanah dalam polibag sedalam akar bibit yang akan di tanam. Setelah itu bibit dimasukan dan ditimbuni tanah samapi penuh.
  1. 2. Pemeliharaan
    1. Penyiraman di lakukan 1 – 2 kali sehari, pagi dan sore bila tidak ada hujan
Penunasan, harus dilakukan dengan teratur seawal mungkin.
  1. Penyiangan tanaman polibag harus bebas dari rumput – rumputan (Clean weeding)
  2. Mulching pada permukaan polibag untuk mengurangi penguapan
  3. Hama dan penyakit yang kini terdapat pada bibit dalam polibag sama dengan pemberantasan pada pembibitan
  1. 3. Pemupukan
Umur
UREA
TSP
KCL
KIES
JLH
1 bulan
2,75
4,70
1,63
1,08
10,16
2 bulan
4,30
7,30
2,60
1,70
15,90
3 bulan
4,48
9,30
3,27
2,15
20,20
4 bulan
4,48
9,30
3,27
2,15
20,20
Dosis perpohon (dalam gram)

Cara Pemberian :
  1. Pupuk di campur rata dan di taburkan di sekitar pohon atau pangkal batang dalam polibag yang terlebih dahulu di gemburkan.
  2. Segera setelah pemupukan, penyiraman di lakukan jika tidak ada hujan

H. ENTRES

Entres atau mata okulasi merupakan sumber bahan tanaman yang penting dan menentukan potensi produksi kebun.
  1. Pemilihan lokasi
Lokasi kebun entres harus memenuhi syarat :
  1. Lokasi bebas dari sumber penyakit
  2. Topografi serata mungkin
  3. Dekat dengan jalan
  4. Dekat dengan sumber air
  5. Mudah diawasi/ dicapai
  6. Bebas dari gangguan alam (banjir, longsor) Gambar 7 : Kebun Entres
  1. L u a s
Luas kebun entres di sesuaikan dengan rencana, penanaman tiap tahunnya. Untuk menghitung luas kebun entres yang diperlukan, maka dilakukan dengan cara :
  1. Kebun entres dengan jarak 1x1m, maka tanaman memerlukan tanah seluas 1m 2
  2. Untuk penanaman 1 Ha dibutuhkan 843 mata okulasi (menimal 80% pembibitan dapat diokulasi)
  3. Kebun entres umur 1 tahun menghasilkan hasil okulasi 1,2 meter/ dengan jumlah mata 15 per meter, maka ada 22 mata
  4. Jadi untuk 1Ha pertanaman membutuhkan entres sebanyak 47 meter.
  1. Persiapan lahan
Persiapan lahan pada prinsipnya sama dengan persiapan lahan pembibitan.
  1. K l o n
Klon dalam kebun entres harus jelas sumber asal- usulnya dan merupakan klon unggul yang berproduksi tinggi.
  1. Penanaman
Untuk kebun entres dianjurkan jarak tanam 1×1 m, kemudian pada jarak tersebut dipancarkan ajir.
  1. Setelah ajir dipacangkan maka penanaman dilakukan dengan membuat lobang tanam sedalam 3 cangkulan.lubang tanam diperdalam dengan tugal sesuai dengan panjangnya akar tanaman.
  1. Bibit stum dimasukkan dalam lobang yang kemudian ditutup dengan tanah dan dipadatkan.
  1. Jika dipandang perlu diadakan penyiraman.
Setelah penanaman maka dibuat petak kebun entres yang bisa memperlihatkan adanya petak klon, batas klon dan jalan.
  1. Pemeliharaan
    1. Penyiangan
Pada prinsipnya kebun entres harus bersih dan bebas dari gulma. Penyiangan dapat dilakukan dengan manual maupun secara khemis. Pada musim hujan penyiangan secara manual dilakukan 3 minggu sekali, tetapi secara khemis dilakukan 3 bulan sekali. Herbisida disemprotkan setelah pendangiran, biasanya dilakukan pada kebun yang kayunya seyinggi kira-kira 1 meter.
  1. Pemupukan
Sebelum tanam lahan diberi pupuk dasar TSP dengan dosis 250 gr/lobang, selanjutnya:
Tahun I : kies 5 gr, urea 20gr, KCL 10 gr, TSP 10gr
Tahun II : kies 10gr, Urea 30 gr, KCL 15gr, TSP 15gr
Tahun III: —
Pemupukan dilakukan pada saat tanah lembab dan bebas dari gulma.
  1. Pewiwilan
Pewiwilan dilakukan sedemikian rupa supaya tidak tumbuh tunas palsu. Begitu juga setelah kayu entres dipotong, hanya cabang yang dikehendaki saja yang dibiarkan tumbuh.
Pada umumnya pohon yang tumbuh dengan baiktidak akan mengerluarkan tunas samping, tetapi pohon yang kurang sehat biasanya menumbuhkan tunas samping, maka itulah yang perlu dihilangkan.
  1. Hama dan penyakit
Hama dan penyakit pada kebun entres, garis besarnya sama dengan hama dan penyakit dipembibitan demikian juga cara pencegahan/ pemberantasannya.
  1. Pemotongan kayu okulasi
Semua mata baik yang coklat maupun yang hijau dapat dipergunakan untuk okulasi. Pada mata hijau, bisa diambil yang masih ada tangkai daun, atupun yang sudah gugur. Dalam pemotongan kayu okulasi sebaiknya kayu okulasi yang tidak digunakan dipotong juga supaya pertumbuhan kayu okulasi berikutnya bisa seragam. Bekas luka potongan pada pohon diberi obat misalnya TB 129 dan Kolter.
  1. Pengepakan dan pengakutan kayu okulasi
Untuk kayu okulasi yang dipakai pada jarak dekat dapat dibungkus dengan pelapah pisang, sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh kayu okulasi harus dikemas baik, dengan cara sebagai berikut :
  • Ø kayu okulasi dipotong 1-1,2 m
  • Ø bekas potongan diberi label klon dengn spidol kemudian dicelup parafin.
  • Ø disusun dalam kotak secara berlapis-lapis dengan memberi bahan pelembab sepert i: serbuk gergaji basah, pelepah pisang dan lain sebagainya.
Yang perlu diperhatikan dalam pemotongan kayu okulasi adalah:
ü Dua minggu sebelum diadakan pemotongan hendaknya tanaman dirantas untuk memancing pertumbuhan tunas.
ü pemotongan dilakukan pada pagi hari
ü Disimpan pada tempat yang lembab
ü Menghindari sinar matahari langsung, supaya tingkat kesadarannya tetap tinggi.
P E R S I A P A N T A N A M.
Sebelum membuka areal, maka perlu direncanakan progam yang disesuaikan dengan pembibitan, pada musim kemarau diadakan persiapan lahan, mulai dari survei sampai pembakaran dan penanaman. Semuanya itu saling berhubungan untuk suksesnya program yang diinginkan. Selain itu faktor tenaga kerja juga memegang peranan penting didalamnya, apalagi pada lahan yang berskala luas.
  1. A. SURVEI
Dikerjakaan selama 1 bulan, atau menurut besar kecilnya lahan yang ditanami. Yang dilakukan adalah membuat rintisan selebar 1,5-2 meter dengan membabat vegetasi semak yang berada pada jalur menurut arah utara-selatan dan timur-barat dengan membawa alat ukur.
  1. B. TEBAS
Pekerjaan tebas adalah membersihkan lahan dari semak belukar dan memotong kayu kecil yang berdiameter 12 cm kebawah. Pekerjaan menebas ini bermaksud untuk mendahului kerja menebang pohon serta memperoleh bahan bakar yang diperlukan pada saat pembakaran.
  1. C. TUMBANG
Pekerjaan ini dilakukan setelah penebasan selesai. Tinggi tunggul pohon diusahakan serapat mungkin ketanah. Penebangan pohon pada areal berbukit dimulai dari lembah ke arah puncak.
Gambar 8 : Persiapan Lahan
  1. D. PEMBAKARAN I
Pembekaran I dilakukan setelah 2-2,5 bulan di tebang. Jika dilakukan lebih dari 3 bulan, maka sulit terbakar karena kayu dan daun sudah mulai lembab dan busuk, selain itu semak sudah mulai tumbuh kembali.
  1. E. MENUMPUK/ MEMBAKAR II
Sisa kayu yang tidak terbakar pada pembakaran I dipotong lalu dikumpulkan dan dibakar.
  1. F. PENANAMAN L C C (leguiminoseae Cover Crop)
Sesudah tanah terbakar ketika pembakaran kayu, maka timbullah kerusakan pada lapisan tanah top soil baik fisik, kimia maupun biologi tanah, disamping itu tejadi pengikisan oleh ai r pada tanah-tanah yang gundul. Untuk mencegah hal itu perlu segera ditanami dengan tanaman penutup tanah berupa kacang-kacangan (Contresema pubescens).
  1. G. PEMANCANGAN (pengukuran jarak tanam)
Pada jarak tanam 6x 3,3 meter terdapat 505 pohon per hektar, sedangkan pada jarak 4,5 x 4,5 meter terdapat 490 pohon per hektar. Cara memancang yang baik adalah dengan menggunakan atau waterpas yang diikat pada kedudukan bangku dengan jarak 6 x 3,3 meter.
Gambar 9 : Pengukuran Jarak Tanam
  1. H. PEMBUATAN TERAS
Pada areal yang miring perlu dibuat teras untuk mencegah terjadinya erosi dan memudahkan perawatan pemupukan dan pengambilan hasil. Teras dibuat selebar 1,5 meter dan dibuat agak miring kearah tebing.
  1. I. MEMBUAT LOBANG
Pada tempat yang telah diberikan pancangan digali lobang tanam sebesar 60×60 x60 cm untuk stum mini dan 80 x 80 x 80 untuk stum tinggi. Waktu menggali lobang harus diperhatikan bahwa lapisan atau harus dipisahkan dari lapisan bawah.
  1. J. PENANAMAN
Sistem penanaman karet ada 2 macam, yaitu :
  1. Sistem monokultur : penanaman dengan jarak segitiga, bujur sangkar atau tidak teratur pada tanah yang miring sehingga perlu membuat teras.
    1. Sistem tumpang sari :
      1. Sistem penanaman jalanan
X . X . X . X . X . X
, , , , , , , , , , ,
, + , + , + , + , + , + , + , + , + , + ,
, , , , , , , , , , ,
X . X . X . X . X . X
Keterangan :
X = tanaman karet 8×4 m : 325 pohon/ha
, = tanaman kopi 2×2 m : 864 pohon/ha
+ = tanaman pelindung (lamtoro)
  1. Sestem penanamn jarak pagar
X . . . . X . . . . X . . . . X
X . . . . X . . . . X . . . . X
Keterangan :
X = tanaman karet 3×14 m : 256 pohon / ha
. = tanaman kopi 2×3 m : 896 pohon / ha
CARA MENANAM
Bibit yang ada dalam polibag diletakkan pada lobang yang telah dipersiapkan 2-3 minggu sebelum diadakan penanaman, bibit ini harus sudah berpayung 2-3 dan pucuk sudah tua. Bibit dalam polibag dilepaskan dan ditimbun kembali oleh tanah bagian ats baru disusul tanah lapisan bawah. Perlu diperhatikan agar akar tunggal lurus ke dalam.
Agar tanaman karet terhindar dari serangan penyakit akar, maka sebaiknya sebelum diadakan penanaman, lobang tanam ditaburi balerang sebanyak 20-50 gram pohon.
P E M E L I H A R A A N T A N A M A N
  1. A. TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM)

  1. 1. Penyulaman
    1. Bibit dilebihkan 5% dari kebutuhan. Bibit ini sama dengan umur bibit yang akan ditanam dilapangan, agar pertumbuhannya seragam.
    2. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 1-2 tahun, pada tahun ke 3 tidak dilakukan lagi penyulaman.
    3. Penyulaman jangan dilakukan pada waktu terik matahari.
    4. Sebelum dilakukan penyulaman, periksa dahulu penyebab jamur atau bakteri, maka tanah bekas bibit yang mati diberi fungsida.
  1. 2. Penyiangan
Dapat dilakukan dengan cara manual dan cara kimia. Cara manual yakni dengan parang atau cangkul dan dilakukan 2-3 kali setahun. Cara kimia yakni dengan menggunakanherbisida. Herbisida yang dipakai tergantung : Jenis, sifat gulma, kerapatan tumbuh, ketinggian tumbuh, daya perkembangbiakkan dan tingkat toleransi gulma.
  1. 3. Pemupukan
Tujuan pemupukan adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan matang sadap.
Cara pemberian pupuk adalah membuat saluran melingkar disekitar pohon dengan jarak dari pangkal batang sebagai berikut :
Umur 3-5 bulan : 20-30 cm
Umur 6-10 bulan : 20-45 cm
Umur 11-20 bulan : 40-60 cm
Umur 21-48 bulan : 40-90 cm
Umur 48- bulan ke atas : 50-120 cm
Pemberian puuk jangan dilakukan pada musim hujan karena cepat tercuci oleh air hujan, tetapi sebaiknya dilakukan pada saat penggantian musim hujan ke musim kemarau.
Gambar 10 : Tanaman Belum Menghasilkan
Dosis pemupukan :
Dosis pemupukan tanaman tergantung dari jenis tanah , (lihat tabel berikut ini)
Tabel 1. Dosis pemupukan TBM pada tanah podjolik merah kuning (liat) :
Umur (Bulan )
U r ea
TSP
KCL
3
21,73
31,97
13
9
43,47
63,94
26
15
65,21
95,92
36
21
86,95
127,89
52
27
108,69
159,86
65
33
130,43
192,84
78
39
173,91
255,78
104
45
217,39
319,73
150
51
260,86
383,86
156
Tabel 2. Dosis Pemupukan TBM pada tanah Latosol (rawa)
Umur (Bulan )
U r ea
TSP
KCL
3
21,73
20,72
15
9
43,47
41,44
30
15
65,21
62,17
45
21
86,95
82,89
60
27
108,69
103,61
75
33
130,43
124,93
90
39
130,43
124,93
90
45
217,39
184,14
150
51
260,86
207,23
180
  1. 4. Seleksi dan penjarangan
Sebelum matang sadap, seleksi tanaman perlu dilakukan. Pohon yang tetap ditinggalkan adalah pohon yang benar-benar baik dan tidak diserang penyakit serta pertumbuhan tanaman seragam. Penjarangan dilakukan dengan cara membongkar pohon – pohon yang tidak baik dan terserang penyakit. Biasanya dari 476 bibit yang ditanam per hektar yang bisa tumbuh dengan baik hanya 95% atu sebanyak 425 pohon. Sedangkan yang diperjarang bisa mencapai 5 % sehingga pohon yang baik ada 425 pohon. Dari jumlah ini diramalkan yang bisa disadap sebanyak 400 pohon.
  1. 5. Peliharaan tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah yang ditanam perlu dipupuk. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk hijau leguminose. Selain itu juga dapat dilakukan dengan pupuk lain bersamaan dengan pemberian pupuk pada tanaman. Selain pemupukan, tanaman penutup tanah perlu disiangi dengan cara dibersihkan bagian atasnya jika tanaman sudah menunjukkan pertumbuhan yang tinggi. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan parang
  1. 6. Perangsangan percabangan
    1. Dengan memotong setinggi 3 meter dari pertautan okulasi
    2. Dengan memberi sungkup plastik
    3. Dengan mengikat (menyunggul pucuk tanaman)
    4. Dengan clipping yaitu memotog cabang, ranting daun uda pada ketinggian 3 meter dari pertautan okulasi.
  1. B. PEMELIHARAAN TANAMAN YANG SUDAH MENGHASILKAN (TM)

Memasuki umur 5 tahun, siklus hidup karet baru saja lepas dari komposisi I yaitu masa tanaman belum menghasilkan. Pada umur ini tanaman sudah disebut tanaman yang menghasilkan (komposisi II).
Pada tahun ke – 5 ini tanaman karet sudah mulai disadap, biasanya tanaman karet berusia 4 tahun yang benar –benar matang sadap hanya sekitar 400 pohon/ha. Tanaman yang sudah menghasilkan dibagi dalam 2 golongan yakni :
Tanaman menghasilkan tertunda (terdiri dari tanaman yang abnormal, terlambat pertumbuhan atau terserang penyakit dan tanaman yang benar-benar menghasilkan. Untuk mendapatkan hasil lateks yang merata dan produksi sesuai hasil rata- rata lateks maka tanaman harus dirawat.
Tujuan perawatan antara lain : Mencegah erosi, mempertahankan pertumbuhan tanaman penutup tanah serta mencegah terjadinya serangan hama penyakit yang merugikan. Perawatan tanaman meliputi : Penyiangan, Pemupukan, dan pemberantas hama atau penyakit.
Gambar 11 : Tanaman Sudah Menghasilkan
  1. a. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan secara manual, kimiawi, biologi serta kombinasi kimia dan biologi. Cara manual biasanya menggunakan parang atau cangkul, dimana kebun tidak terlalu luas. Semakin luas kebun karet maka semakin banyak menggunakan tenaga kerja, sehingga tidak peraktis. Penyiangan secara kimiawi sangat efektif dan perktis digunakan di perkebunan karet. Penggunaan herbisida harus hati – hati supaya jangan merusak tanaman karet. Herbisida yang digunakan ada dua jenis Yaitu yang bersifat kontak dan bersifat sistemik.
Herbisida bersifat kontak membunuh gulma secara kontak langsung dengan gulma, misalnya gramaxone dan paracol, sedangkan herbisida sistemik bersifat meresap pada bagian stomata (mulut daun) yang akhirnya membunuh gulma. Hebisida ini biasa digunakan untuk jenis alang alang (imperata cylindrica) misalnya dalapon dengan merek pabrik Dowpon Gramavine, basfapon, Pelitapan dan sebagainya. Dosis yang digunakan ialah sesuai dengan aturan yang tertera pada label kemasan, jangan sampai berlebihan dosis karena dapat membunuh tanaman penutup tanah.

b. Pemupukan

Kekurangan unsur hara pada tanaman karet pada dasarnya berhubungan erat dengan kebutuhan unsur hara pada pertumbuhan dan penyadapannya. Tanda –tanda kekurangan unsur hara bisa di perhatikan dari penampakan tanaman. Untuk menghemat biaya, maka jumlah pupuk yang di berikan, ditentukan menurut jumlah pohon yang benar – benar baikuntuk di sadap, artinya dosis pemupukan di hitung perpohon. Pada karet biasanya digunakan pupuk tunggal, sedangkan pupuk majemuk jarang digunakan.
Metode yang diterapkan ada bermacam – macam, misalnya :
  • Pupuk ditaburkan disekeliling pohon dengan jarak 1-1,5 meter dengan terlebih dahulu membuat saluran.
  • Pupuk ditaburkan dengan sestem tapal kuda. Cara ini sama dengan cara diatas, namun hanya setengah lingkaran.
  • Pupuk ditaburkanpada irikan antara pohon yaitu 1-1,5 meter dari pohon. Sebelumnya tanah harus digali agar pupuk bisa dibenamka dalam tanah.
  • Pupuk ditaburkan antara larikan dan barisan. Tanah diantara barisan harus benar-benar bebas dari gulma.
Waktu pemupukan dilakukan dua kali setiap tahun dengan dosis berdasarkan jenis tanah sebagai berikut :
Jenis tanah Urea TSP KCL
Latosol(rawa) 280,86 157,85 180
Podjolik merah kuning 280,86 383,68 156
  1. C. Peremajaan Tanaman

Pada kebun yang tanamannya tidak berproduksi sebaiknya diremajakan. Karet yang sudah tua ditebang, akarnya dibongkar dan kayunya digunakan sebagai kayu bakar. Perlakuan ini dibuat seperti pada saat penanaman baru namun perlu pemupukan sebab tanah bekas tanaman karet sagat kurang unsur hara. Tanaman penutup tanah hendaknya diganti dengan yang baru untuk terhindar serangan bakteri dan jamur.

  1. C. HAMA DAN PENYAKIT

  1. Hama
Hama yang biasa menyerang tanaman karet adalah Rayap.
Cara pengendaliannya adalah :
  1. Membersihkan kebun dari tunggul dan sisa-sisa akar. Cara lain adalah : ujung stum bagian atas mata okulasi ditutup dengan plastik sehingga rayap tidak dapat menggerek ujung stum yang kering .
  2. Memancing rayap agar keluar dari stum dengan menggunakan ubi kayu busuk sebagai umpan sebanyak 2-3 batang. Renyap lebih tertarik pada umpan dari pada stum sehingga karet terhindar dari serangan.
  3. Menyemprot sekitar batang karet dengan furadan 3G sebanyak 5-10 gr/ pohon



  1. D. PENYADAPAN
Penyadapan merupakan tindakan membuka pembuluh lateks agar lateks yang terdapat dalam tanaman karet dapat keluar. Beberapa tahapan dalam melakukan penyadapan karet yaitu :
  1. Menentukan matang sadap
Pohon disebut telah mencapai matang sadap apabila lilit batangnya pada ketinggian 100cm dari pertautan okulasi sudah mencapai 45cm atau lebih atau lebih pada minimal 60 % populasi. Umumnya lilit batang dengan ukuran matang sadap dapat di capai pada umur 4-6 tahun.
Gambar 12 : Cara Penyadapan yang Baik
  1. Persiapan buka sadap
Pohon yang telah matang sadap kemudian di tandai untuk dibuatkan bidang sadap dengan bantuan mal sadap. Bidang sadap ditujukan untuk menentukan :
  • Tinggi buka sadap 130 cm
  • Arah bukaan sadap dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 300 – 400 terhadap bidang datar.
  • Panjang irisan yaitu ½ lingkar batang tanaman karet
  • Letak bidang sadap ditentukan pada arat timur – barat pada jarak antar tanaman yang pendek
  1. Pelaksanaan penyadapan
  • Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan 1 – 1,5 mm dai kambium dengan ketebalan kulit yang di iris rata-rata 1,5 mm setiap kali penyadapan, sehingga tanaman dapat disadap hingga 25 – 30 tahun
  • Panjang irisan ½ S
  • Frekwensi penyadapan dianjurkan untuk karet adalah d3 (satu kali sadap tiap tiga hari) pada dua tahun pertama dan d2 (satu kali sadap tiap dua hari) dan demikian untuk yahun selanjutnya
  • Waktu penyadapan yang tepat adalah sepagi mungkin yaitu pada pukul 05.00 hingga 06.00.